A Sincere Suggestion
DOI:
https://doi.org/10.36914/pxj28655Kata Kunci:
‘maaf sekadar mengingatkan’, saran, face threatening actAbstrak
Salah satu tantangan terbesar dalam berkomunikasi adalah menyampaikan maksud dari perkataan kita dengan baik; apakah pendengar dapat memahami dan menangkap maksud dari perkataan kita sama seperti apa yang kita inginkan. Sebuah kejadian yang viral akhir-akhir ini tentang penggunaan ekspresi ‘maaf sekadar mengingatkan’ menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan berkomunikasi dengan baik perlu memperhatikan beberapa hal penting. Dalam kasus ini, penggunaan kata maaf tidak lantas membuat pendengar merasa lebih baik setelah mendengar kritik atau saran yang disampaikan. Tulisan ini ingin memberikan analisis ilmiah tentang bagaimana makna ‘maaf sekadar mengingatkan’ terbentuk dalam penggunaan untuk menegur dan mengkritik. Lebih lanjut, tulisan ini ingin menanggapi penjelasan Ivan Lanin yang mengungkapkan bahwa makna sekadar megingatkan bersifat netral. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menerapkan teori pragmatik tentang Face Threatening Act (FTA). Dari hasil penelitian, dapat diketahui dan disimpulkan bahwa makna negatif yang terkandung dalam ekpresi ‘maaf sekadar mengingatkan’ terbentuk dari ucapan yang menyertai ekspresi tersebut.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2019 STIKS

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
This article is an open-access article distributed under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution–NonCommercial-4.0 International License (CC BY-NC-SA 4.0).













