Potret Perlawanan Perempuan Adat Rote Terhadap Budaya PatriarkiDalam Film Indonesia

Authors

  • Haifa Salsabila Hutomo Author
  • Isti Purwi Tyas Utami UPJ Author

DOI:

https://doi.org/10.36914/qsk3p251

Keywords:

Critical Discourse Analysis, Sara Mills, Film, Patriarchal culture

Abstract

The film Women from Rote Island portrays injustices faced by indigenous Rote women who are victims of human trafficking and sexual violence. This study employs a qualitative approach, utilizing a critical paradigm and Sara Mills's model of discourse analysis to scrutinize the positioning of female characters in scenes that depict their defiance against patriarchal traditions. The analysis focuses on the three key positions within the film's discourse: subject, object, and reader. An examination of 20 key scenes demonstrates that the main female characters are consistently positioned as subjects. They resist objectification through two key strategies. First, they redefine their identities by refusing to be treated as sexual objects and by challenging confining traditions like the marriage dowry, which signifies male ownership. Second, they assert themselves in the public sphere by seeking economic independence and pursuing legal justice for sexual violence, rejecting customary resolutions that sideline victims. Despite their attempts to thwart the main female character's resistance, male characters, the dominant group in patriarchal traditions, and powerful organizations like police officers and traditional elders are positioned as objects. Ultimately, the film positions its audience to perceive the narrative truth from the perspective of the Rote women and to endorse their struggle.

 

Abstrak

 

Film Women from Rote Island berusaha memotret ketidakadilan yang dialami perempuan Adat Rote yang menjadi korban perdagangan manusia dan kekerasan seksual. Penelitian ini berusaha mengkaji bagaimana tokoh perempuan diposisikan dalam adegan yang menunjukkan perlawanan perempuan terhadap tradisi patriarkal. Penelitian berjenis kualitatif, menggunakan paradigma kritis dan metode analisis wacana model Sara Mills untuk melihat posisi subjek, objek dan penonton. Telaah pada 20 adegan menunjukkan bahwa tokoh utama perempuan dalam film secara dominan diposisikan sebagai subjek yang konsisiten melakukan perlawanan terhadap praktik objektifikasi dan domestikasi perempuan. Tokoh perempuan melakukan perlawanan dengan dua strategi. Pertama, dengan mendefinisikan kembali identitasnya di luar identitas yang dipaksakan tradisi patriarki. Mereka menolak menjadi objek seksual dan dibatasi ruang geraknya di ranah domestik melalui tradisi turun-temurun seperti belis perkawinan yang menanadai kepemilikan laki-laki atas perempuan. Kedua, dengan mengambil peran di wilayah publik. Selain mencoba berdaya secara ekonomi, mereka secara konsisten mengupayakan advokasi hukum bagi perempuan korban kekerasan seksual dan menolak penyelesaian damai secara adat. Tokoh laki-laki sebagai kelompok dominan dalam tradisi patriarkal dan kelompok berpengaruh seperti tetua adat dan aparat kepolisian diposisikan sebagai objek sekalipun mencoba resisten terhadap perlawanan tokoh utama perempuan. Penonton diposisikan untuk melihat kebenaran berdasarkan sudut pandang perempuan Adat Rote dan mendukung perlawanan yang dilakukan.

Published

30-10-2025

Issue

Section

Articles